Nama Andry Hakim kembali menjadi pusat perhatian dunia pasar modal Indonesia. Kali ini bukan karena seminar atau konten edukasi investasinya, tetapi karena aksinya yang mengejutkan pasar: memborong saham PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) dalam jumlah besar.
Dalam laporan keterbukaan informasi, Andry tercatat membeli sekitar 109,9 juta lembar saham CBRE pada 10 Oktober 2025, dengan harga rata-rata Rp 750 per saham. Nilai transaksinya diperkirakan mencapai Rp 82,42 miliar. Aksi tersebut membuat Andry resmi menguasai sekitar 5,02 persen kepemilikan perusahaan.
Strategi Berani Saat Orang Ragu
Andry dikenal sebagai investor muda dengan karakter agresif dan penuh perhitungan. Ia tidak menunggu saat pasar sedang ramai, justru masuk ketika banyak orang ragu. CBRE sendiri dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan harga akibat fluktuasi harga komoditas global. Namun di tengah ketidakpastian tersebut, Andry melihat peluang.
Strateginya sederhana: membeli ketika pasar lemah, menahan ketika fundamental mendukung, dan keluar pada momentum yang tepat. Pendekatan ini menuntut kepercayaan diri, analisis tajam, dan mental yang kuat.
Sekilas Tentang CBRE
CBRE bergerak di sektor pertambangan dan energi, khususnya dalam bidang batu bara. Sektor energi di Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan, meski pergerakan harga sahamnya sangat bergantung pada dinamika harga komoditas global. Artinya, saham ini bukan untuk investor yang tidak siap menghadapi risiko tinggi.
Efek Andry Hakim Mulai Terlihat
Begitu kabar aksi pembelian ini beredar, sentimen pasar langsung berubah. Komunitas investor ritel mulai memperhatikan pergerakan CBRE. Fenomena ini dikenal sebagai efek “influencer investor” — ketika aksi satu sosok dengan pengaruh besar dapat menggerakkan minat pasar secara luas.
Namun, penting untuk dipahami bahwa kehadiran investor besar bukan berarti sinyal bagi semua orang untuk ikut membeli. Andry memiliki strategi dan kapasitas modal yang tidak dimiliki semua investor.
Potensi dan Risiko
Potensi:
-
Kenaikan harga energi dapat mendorong kinerja dan valuasi perusahaan.
-
Sentimen positif pasar akibat masuknya investor besar.
-
Potensi aksi korporasi di masa mendatang.
Risiko:
-
Fluktuasi harga komoditas dapat menyebabkan tekanan harga yang signifikan.
-
Konsentrasi kepemilikan dapat menciptakan volatilitas yang lebih tinggi.
-
Investor ritel berisiko terjebak jika hanya mengikuti tren tanpa analisis.
Pelajaran bagi Investor Ritel
Pertama, jangan ikut-ikutan hanya karena ada nama besar. Lakukan analisis sendiri sebelum mengambil keputusan.
Kedua, pahami fundamental perusahaan: kinerja keuangan, valuasi, dan prospek bisnis.
Ketiga, miliki strategi masuk dan keluar yang jelas.
Keempat, siapkan mental menghadapi kemungkinan volatilitas tinggi.
Penutup
Langkah Andry Hakim memborong saham CBRE bukan sekadar transaksi, melainkan pernyataan sikap seorang investor yang yakin pada analisisnya. Pasar modal tidak memberi ruang bagi mereka yang hanya ikut arus, tetapi terbuka bagi mereka yang berani berpikir dan bertindak dengan perhitungan.
Apakah ini awal dari pergerakan besar CBRE atau ujian bagi para investor ritel, waktu yang akan menjawab.
Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan membeli atau menjual saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.